Tabiat Allah Dinyatakan Di Dalam Kristus

6 Desember 2022

TABIAT ALLAH DINYATAKAN DI DALAM KRISTUS

 

Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Yohanes 14:9.

 

Setan bersuka cita bahwa dia telah berhasil merendahkan citra Allah dalam diri manusia. Kemudian Yesus datang untuk memulihkan citra Penciptanya dalam diri manusia. Tak seorang pun kecuali Kristus yang dapat membentuk kembali tabiat yang telah dirusak oleh dosa. Dia datang untuk mengusir setan yang telah menguasai kehendak atau kemauan dalam diri manusia. Dia datang untuk mengangkat kita dari debu, untuk membentuk kembali tabiat kita yang telah rusak menjadi serupa menurut pola tabiat ilahi-Nya, dan menjadikannya indah dengan kemuliaan-Nya sendiri. –The Desire of Ages, hal. 37.

Anak Allah turun ke bumi ini agar di dalam Dia manusia dapat memiliki contoh dari tabiat sempurna yang hanya dapat diterima oleh Allah. Melalui kasih karunia Kristus setiap persediaan telah dibuat untuk keselamatan keluarga manusia. Maka dalam segala urusan yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku Kristen telah dimungkinkan untuk menjadi sama murninya dengan perbuatan Kristus. Dan jiwa yang menerima nilai-nilai tabiat Kristus dan menerima jasa-jasa hidup-Nya adalah menjadi sama berharganya di hadapan Allah seperti Anak-Nya yang terkasih. –Counsels to Parents, Teachers, and Students, hal. 60.

Dengan mengambil kemanusiaan ke atas diri-Nya, Kristus menjadi satu dengan kemanusiaan, dan pada saat yang sama menyatakan Bapa surgawi kita kepada manusia yang berdosa. Dia yang telah berada di hadirat Bapa sejak awal, dan yang merupakan wujud nyata dari Allah yang tidak dapat terlihat mata manusia, dan sebagai satu-satunya yang mampu mengungkapkan tabiat Ketuhanan kepada umat manusia. Dalam segala hal Dia telah dijadikan seperti saudara-saudara manusia-Nya. Dia telah menjadi daging sama seperti kita. Dia merasakan lapar dan haus dan lelah. Dia ditopang oleh makanan dan disegarkan dengan tidur. Dia berbagi beban yng dirasakan umat manusia; namun Dia adalah Anak Allah yang tidak bercela. … Dia menyatakan Allah oleh sifatnya yang lemah lembut, penyayang, simpatik, dan selalu memperhatikan orang lain, dan terus-menerus terlibat dalam pelayanan bagi Allah dan manusia. –The Ministry of Healing, hal. 422.

 

Leave a Reply

  Subscribe To Newsletter
SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Keep up to date with the latest news, articles and weekly Sabbath School Lessons. In order to subscribe please provide us with your contact details bellow.

Note: We hate spam emails and we will never share your details with anyone else.

×