Seumpama Ragi

4 Agustus 2022

SEUMPAMA RAGI

Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya. Matius 13:33.

“ … Tetapi dalam perumpamaan Juruselamat, ragi digunakan untuk menggambarkan kerajaan surga. Itu menggambarkan kuasa yang menghidupkan dan mengembangkan dari kasih karunia Allah.

“Tidak ada yang begitu keji, tidak ada yang jatuh begitu rendah, sehingga berada di luar jangkauan pekerjaan kuasa ini. Pada siapapun juga yang mau menyerahkan dirinya kepada Roh Kudus asas hidup yang baru akan ditanamkan; peta Allah yang hilang harus dipulihkan pada umat manusia.

“Tetapi manusia tidak dapat mengubah dirinya sendiri dengan sekedar menggunakan kemauannya. Ia tidak memiliki kuasa untuk membuat perubahan ini bisa berhasil. Ragi itu—sesuatu benda yang benar-benar dari luar— harus diadukkan ke dalam adonan sebelum keinginan untuk berubah timbul di dalamnya. Demikian juga dengan kasih karunia Allah, harus terlebih dahulu diterima oleh orang berdosa, sebelum ia dapat dilayakkan masuk ke dalam kerajaan kemuliaan. Segenap kebudayaan dan pendidikan yang dapat diberikan dunia ini, akan gagal untuk menjadikan anak manusia yang telah terhina dosa menjadi anak surga. Kuasa pembaharuan ini harus yang datang dari Allah. Perubahan itu hanya bisa dilaksanakan oleh Roh Kudus. Siapapun orang yang mau diselamatkan, baik yang berpangkat tinggi atau rendah, kaya atau miskin, harus menyerahkan dirinya kepada pekerjaan kuasa ini.

“Seperti ragi itu, bilamana dicampuradukkan dengan adonan, akan bekerja dari dalam ke luar, begitulah juga dengan pembaharuan hati sehingga kasih karunia Allah dapat bekerja untuk mengubah hidup itu. Perubahan-perubahan yang di luar saja tidak akan cukup untuk membawa kita ke dalam persesuaian dengan Allah. Banyak orang yang mencoba untuk mengubah diri dengan memperbaiki kebiasaan buruk ini dan itu dan mereka berharap bahwa dengan jalan ini mereka akan menjadi orang saleh, tetapi mereka memulainya dari tempat yang salah. Pekerjaan kita yang pertama adalah dengan hati kita.” –Christ’s Object Lessons, hal. 95-97.

Leave a Reply

  Subscribe To Newsletter
SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Keep up to date with the latest news, articles and weekly Sabbath School Lessons. In order to subscribe please provide us with your contact details bellow.

Note: We hate spam emails and we will never share your details with anyone else.

×