Satu Titik Lemah

23 Januari 2022

SATU TITIK LEMAH

Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?Matius 7:3.

“Kita mungkin menyanjung diri sendiri bahwa kita bebas dari banyak hal di mana orang lain masih bersalah; tetapi meskipun kita memiliki beberapa poin tabiat yang kuat, namun masih ada satu titik yang masih lemah, berarti masih ada persekutuan antara jiwa dan dosa. Hati terbagi dalam pelayanannya, dan berkata, ‘Sebagian bagi diri dan sebagian bagi-Mu.’ Sebagai anak Allah kita harus menyelidiki dosa yang masih disayangi dan dimanjakan, dan mengizinkan Allah untuk mencabutnya dari hati. Kita harus menaklukkan satu dosa itu; karena itu bukan masalah yang sepele di mata Tuhan.
“Seseorang berkata, ‘Saya bukan yang paling mendengki, tetapi saya terprovokasi dan mengatakan hal-hal yang jahat, meskipun saya selalu menyesal setelah saya marah.’ Yang lain berkata, ‘Saya memang memiliki kesalahan ini atau itu, tetapi saya hanya membenci keburukan ini dan itu seperti yang ditunjukkan oleh orang-orang tertentu dari antara orang-orang yang saya kenal.’ Tuhan tidak memberi kita daftar dosa berjenjang, sehingga kita dapat menganggap beberapa dosa sebagai yang memiliki konsekuensi kecil, dan mengatakan bahwa itu hanya akan menyebabkan sedikit kerusakan, sementara dosa yang lain lebih besar dan akan banyak merugikan.
“Sebuah rantai memang kuat kecuali di titik mata rantai terlemahnya. Kita mungkin mengatakan rantai seperti itu kelihatannya baik, tetapi jika ada satu saja mata rantai yang lemah, maka rantai itu sebenarnya sama sekali tidak dapat diandalkan. Pekerjaan mengatasi tiap kelemahan diri adalah menjadi pelajaran bagi setiap jiwa yang sedang memasuki kerajaan Allah.” –Messages to Young People, hal. 91.
Dalam menyerahkan diri kepada Tuhan, kita menuai keuntungan-keuntungan besar; Karena jika pun kita memiliki kelemahan tabiat, sebagaimana yang memang kita semua miliki, bila kita menyerahkan diri kita kepada-Nya berarti kita sedang mempersatukan diri kita kepada Dia yang perkasa untuk menyelamatkan. Ketidaktahuan kita akan dipersatukan dengan kebijaksanaan-Nya yang tanpa batas, kelemahan kita menjadi kekuatan untuk bertahan, dan, seperti Yakub, kita masing-masing dapat menjadi anak-anak Raja ataupun pemenang bersama Tuhan.” –Ye Shall Receive Power, hal. 143.

Leave a Reply

  Subscribe To Newsletter
SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Keep up to date with the latest news, articles and weekly Sabbath School Lessons. In order to subscribe please provide us with your contact details bellow.

Note: We hate spam emails and we will never share your details with anyone else.

×