Memberitakan Injil dalam Kesederhanaannya

MEMBERITAKAN INJIL DALAM KESEDERHANAANNYA

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” Yakobus 1:22-25.

“Saudara dan saudari, bangun, bangunlah! Beritakan Injil dalam kesederhanaannya. Dengarkan ‘apa yang dikatakan Kitab Suci’ bagi hidupmu. Adalah sangat penting bagimu untuk mendengar dengan benar, agar engkau membersihkan hatimu dari sifat suka mementingkan diri, karena, keselamatan kekalmu yang menjadi taruhannya. Apakah engkau sedang mencari Mutiara yang berharga itu? Apakah engkau sedang menjaga diri dari tipu daya Setan, atau, apakah engkau malah siap menerima saran dari mereka yang telah menyimpang dari iman, dan memperhatikan roh-roh si penggoda? Keselamatanmu bergantung pada kesediaanmu untuk mendengar yang benar dengan benar, dan menerima dengan kelembutan dari Firman yang terukir itu.
“Maukah engkau diperdamaikan dengan Tuhan, dan mentaati perintah-perintah-Nya, agar engkau dapat dikuduskan, yakni tubuh, jiwa, dan rohmu? Engkau telah dibeli dengan harga tunai, yakni dengan kematian Anak Allah yang tunggal. Jantungmu berdenyut Pada tiap denyut itulah bergantung hidupmu. Detaknya tidak bergantung pada kehendakmu sendiri. Namun engkau makan dan minum dalam ketidakpedulian yang ceroboh. Akan tetapi, pemeliharaan Tuhan atasmu sungguh tiada henti-hentinya. Dia mengontrol pasang surut arus vital kehidupanmu. Dimanakah rasa syukur yang seharusnya keluar dari bibir manusia atas segala pemeliharaan-Nya itu? Dimanakah penghargaan kita akan penjagaan-Nya yang tiada henti-hentinya itu?” –The Upward Look, hal. 50.

Pertanyaan-pertanyaan untuk direnungkan:
Maukah engkau diperdamaikan dengan Tuhan, dan mentaati perintah-perintah-Nya, agar engkau dapat dikuduskan, yakni tubuh, jiwa, dan rohmu?
Dimanakah rasa syukur yang seharusnya keluar dari bibir manusia atas segala pemeliharaan-Nya itu?
Dimanakah penghargaan kita akan penjagaan-Nya yang tiada henti-hentinya itu?

Leave a Reply

  Subscribe To Newsletter
SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Keep up to date with the latest news, articles and weekly Sabbath School Lessons. In order to subscribe please provide us with your contact details bellow.

Note: We hate spam emails and we will never share your details with anyone else.

×